CEX.io

Selasa, 08 November 2011

Inikah Keluarga Paling Cerdas di Inggris?





INGGRIS – O’Malley adalah keluarga tercerdas di Inggris. Alasannya, enam anak keluarga O’Malley berhasil lulus dari salah satu universitas terbaik dunia, Oxford.Akhir pekan lalu, Oxford menjadi tuan rumah dari peristiwa bersejarah yakni wisuda enam kakak beradik ini dalam waktu bersamaan. Namun, keluarga O’Malley ternyata tidak sependapat dengan klaim ini.





“Oh, kami tidak pintar sama sekali. Orang seangkatan kami telah bekerja untuk menjalankan negeri ini, sehingga kami menganggap diri sebagai golongan kedua,” jelas salah satu anggota O’Malley, Thomas O’Malley yang kuliah di New College, University of Oxford.

“Tentu,” timpal Helen O’Malley. “Satu-satunya hal tentang Oxford adalah Anda dihadapkan dengan begitu banyak orang cerdas sehingga jika kami dibandingkan, akan terasa kecil,” jelas wanita berusia 46 tahun ini seperti dikutip dari The Telegraph, Senin (7/11/2011).

Saat itu, Helen dan Thomas bergabung dengan Mark (47) yang lulus dari Magdalen College, Charles (44) yang lulus dari Oriel College, Elizabeth (37) yang lulus dari Wadham College, dan Edward (33) yang lulus dari New College. Semua kampus itu merupakan bagian dari University of Oxford.

Lima anggota keluarga O’Malley belajar sejarah, kecuali Elizabeth yang belajar Sastra Inggris. Kenapa mereka baru sekarang dinobatkan sebagai pemilik gelar sarjana? Di Oxford, tidak ada upacara wisuda tunggal yang digelar pada akhir semester, seperti yang biasa dilakukan universitas di dunia. Sebaliknya, para lulusan Oxford mengatur sendiri untuk menghadiri salah satu acara yang diselenggarakan kampus sepanjang tahun.

Ketika Mark menyelesaikan ujiannya 25 tahun lalu, dia langsung bekerja dan tidak pernah mengambil gelarnya. Helen mengalami hal yang sama, dan karena itu keluarga ini membuat kesepakatan bahwa jika mereka semua kuliah di Oxford, maka mereka wisuda bersama-sama.

Dan kini, setelah nasib baik dan beberapa negosiasi, New College akhirnya menyetujui untuk melangsungkan peristiwa bersejarah ini. Orangtua mereka, Stephen dan Frances hadir bersama dengan 19 cucu untuk menonton peristiwa keluarga yang membanggakan ini.

Mereka bisa saling memberi selamat atas karier yang telah sukses dijalani. Mark telah hidup di Paris, Prancis, dan menjadi Kepala Marketing Kawasan Eropa di perusahaan teknologi asal Amerika, Charles menjalankan sebuah perusahaan konsultan, Elizabeth sedang mengejar kehidupan rohani di Kroasia, dan Edward menjalankan perusahaan konsultasi investasi.

“Orangtua kami tidak pernah menekan untuk menyesuaikan diri,” kata Charles. “Secara pribadi, saya pikir universitas bukan segalanya dan akhir dari semua. Yang lebih penting adalah kecerdasan emosional daripada IQ,” jelasnya.

Lantas, bagaimana pasangan hakim dan staf ahli sejarah ini membesarkan enam anaknya hingga bisa cerdas secara akademis?

Disebutkan bahwa tidak ada musik klasik saat anak di dalam kandungan. Anak-anak pasangan O’Malley juga tidak mengikuti les Kumon usai sekolah, tidak ada les untuk masuk kuliah. Menurut enam anak O’Malley, orang tua mereka biasa menunjukkan gambar serangga kepik (atau keindahan yang tidak bisa terlupakan).

“Mungkin itu memberikan efek?” tanya Helen. Selain didorong untuk membaca banyak buku sejarah di rumah, pengawasan orangtua juga dinilai berperan penting. Keluarga ini sangat memahami bahwa sekolah merupakan tempat untuk belajar dan rumah tempat untuk bermain.

“Ada penekanan mengenai udara segar dan kami harus di ada taman selama berjam-jam,” kata Charles yang hingga kini tidak memiliki televisi. “Kami makan bersama sebagai sebuah keluarga. Kami berdiskusi tapi bukan tentang politik atau sejarah. Yang saya ingat, masa kecil saya habiskan dengan bermain Lego, permainan Gung-Ho, dan senjata,” jelasnya.

Lantas dengan pencapaian seperti ini, apakah keturunan O’Malley ingin anak-anak mereka kuliah? Helen, yang anak sulungnya mengalami cerebral palsy memiliki pandangan bertentangan. Ini didapatnya karena memiliki buah hati dengan kebutuhan khusus.

“Sangat menyenangkan pada akhirnya bisa mengambil gelar. Saya hanya ingin menunjukkan kepada anak-anak bahwa dulu, saya cukup berhasil di sekolah, tapi kini saya akan sangat bahagia jika anak memilih untuk magang sebagai gantinya,” jelasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar